Berita

NU dan Muhammadiyah Sepakat Jaga Keutuhan NKRI

Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas, dari Sabang hingga Merauke. Tidak hanya wilayah yang luas, Indonesia juga kaya akan budaya.
Dalam silaturahim keluarga besar NU dan Muhammadiyah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa keharusan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Keutuhan NKRI bukan hanya keutuhan geografi, bukan hanya keutuhan wilayah, tapi juga keutuhan budaya,” katanya di gedung PBNU lantai 5, Jakarta, Jumat (23/3).
Kiai Said menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus bangga akan budayanya. Ia mencontohkan beberapa kiai, seperti Gus Dur, Gus Mus, Habib Quraish Shihab, Prof Said Agil Munawwar, dan Mbah Maimoen belajar ke negara Arab tetapi pulangnya membawa ilmu, tidak dengan budayanya.
“Silakan belajar ke Australia kayak Pak Mukti (Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah), tapi pulang harus bawa teknologi dan ilmu saja. Jangan bawa budaya,” kata kiai lulusan Arab Saudi itu.
Hal itu dikarenakan budaya Indonesia, menurut Kiai Said, lebih mulia dan lebih bermartabat. Ia mencontohkan di Arab, adik memanggil kakak tidak dengan sebutan penghormatan seperti Mas atau Kang. Pun istri kepada suami. Mereka menyapa dengan namanya
“Belum lagi, kita lagi sujud, mereka biasa saja melangkah di atas kepala kita,” ucap kiai asal Cirebon itu.
Indonesia itu darul muahadah (negara kesepakatan) atau darussalaam (negara perdamaian). Sejak dulu, NU dan Muhammadiyah sepakat akan negara Indonesia. Hal ini diwakili oleh KH Wahid Hasyim dari NU dan H Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Tiga hal penting agar Indonesia tetap eksis
Senada dengan Kiai Said, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga mengungkapkan bahwa Indonesia bukan sekadar fisik.”Indonesia bukan fisik. Indonesia juga bukan instrumen yang vakum,” katanya.
Mengutip ungkapan dari Bung Karno, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengatakanjiwa Indonesia terletak pada filosofis groundslagh-nya, yakni Pancasila dan agama.
“Di situ ada jiwa, ada pikiran, ada cita-cita di mana bangunan Indonesia diletakkan,” ujarnya.
260 juta bangsa Indonesia memahami cita-cita memahami cita-cita tersebut. Mereka yang akan mewariskan pemikiran tersebut. Inilah yang akan terus NU dan Muhammadiyah tanamkan kepada generasi muda ke depan.
“Indonesia eksis ketika nilai-nilai dan cita-cita kebangsaan yang diletakkan oleh pendiri bangsa itu tetap lengkap menjadi alam pikiran, menjadi jiwa,” katanya.
Jika iman dan takwanya hilang, nilai perjuangannya luruh, dan cita-cita serta filosofis groundslagh-nya tidak ada, menurut Haedar, Indonesia bisa bubar. Tapi ia optimis, Indonesia akan tetap utuh jika tiga hal di atas tetap dipegang teguh.
“Jadi, selama tiga hal tersebut terpenuhi, insyaallah kita akan tetap eksis,” pungkasnya.(Syakir NF/Muiz)
Kunjungan PP Muhammadiyah ke PBNU
Jakarta, NU Online
Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas, dari Sabang hingga Merauke. Tidak hanya wilayah yang luas, Indonesia juga kaya akan budaya.
Dalam silaturahim keluarga besar NU dan Muhammadiyah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa keharusan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Keutuhan NKRI bukan hanya keutuhan geografi, bukan hanya keutuhan wilayah, tapi juga keutuhan budaya,” katanya di gedung PBNU lantai 5, Jakarta, Jumat (23/3).
Kiai Said menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus bangga akan budayanya. Ia mencontohkan beberapa kiai, seperti Gus Dur, Gus Mus, Habib Quraish Shihab, Prof Said Agil Munawwar, dan Mbah Maimoen belajar ke negara Arab tetapi pulangnya membawa ilmu, tidak dengan budayanya.
“Silakan belajar ke Australia kayak Pak Mukti (Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah), tapi pulang harus bawa teknologi dan ilmu saja. Jangan bawa budaya,” kata kiai lulusan Arab Saudi itu.
Hal itu dikarenakan budaya Indonesia, menurut Kiai Said, lebih mulia dan lebih bermartabat. Ia mencontohkan di Arab, adik memanggil kakak tidak dengan sebutan penghormatan seperti Mas atau Kang. Pun istri kepada suami. Mereka menyapa dengan namanya
“Belum lagi, kita lagi sujud, mereka biasa saja melangkah di atas kepala kita,” ucap kiai asal Cirebon itu.
Indonesia itu darul muahadah (negara kesepakatan) atau darussalaam (negara perdamaian). Sejak dulu, NU dan Muhammadiyah sepakat akan negara Indonesia. Hal ini diwakili oleh KH Wahid Hasyim dari NU dan H Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Tiga hal penting agar Indonesia tetap eksis
Senada dengan Kiai Said, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga mengungkapkan bahwa Indonesia bukan sekadar fisik.”Indonesia bukan fisik. Indonesia juga bukan instrumen yang vakum,” katanya.
Mengutip ungkapan dari Bung Karno, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengatakanjiwa Indonesia terletak pada filosofis groundslagh-nya, yakni Pancasila dan agama.
“Di situ ada jiwa, ada pikiran, ada cita-cita di mana bangunan Indonesia diletakkan,” ujarnya.
260 juta bangsa Indonesia memahami cita-cita memahami cita-cita tersebut. Mereka yang akan mewariskan pemikiran tersebut. Inilah yang akan terus NU dan Muhammadiyah tanamkan kepada generasi muda ke depan.
“Indonesia eksis ketika nilai-nilai dan cita-cita kebangsaan yang diletakkan oleh pendiri bangsa itu tetap lengkap menjadi alam pikiran, menjadi jiwa,” katanya.
Jika iman dan takwanya hilang, nilai perjuangannya luruh, dan cita-cita serta filosofis groundslagh-nya tidak ada, menurut Haedar, Indonesia bisa bubar. Tapi ia optimis, Indonesia akan tetap utuh jika tiga hal di atas tetap dipegang teguh.
“Jadi, selama tiga hal tersebut terpenuhi, insyaallah kita akan tetap eksis,” pungkasnya.(Syakir NF/Muiz)
sumber : http://www.nu.or.id/post/read/87636/nu-dan-muhammadiyah-sepakat-jaga-keutuhan-nkri
Tags

Asep Marzuki

Seorang yang terus belajar karena rasa keingintahuan yang tingi, memegang teguh prinsip kehidupan padi, semakin berisi semakin rendah hati

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close