Kajian Islami

Semua Berpotensi Menjadi Seorang Teroris, Termasuk Orang Muslim. Bagaimana Prosesnya ?

#Level 1.
Mereka ini awalnya adalah orang² baik yg berusaha ingin menjadi lebih baik dengan ikut kelompok-kelompok pengajian/kajian. Disini mulai diajarkan aqidah yang “nyeleneh”, yaitu aqidah mujasimah versi wahabi, seperti Allah berada diatas Arsy, Allah memiliki wajah dan tangan. Juga diajarkan tentang pembagian Tauhid menjadi tiga, Uluhiyah, Ubudiyah dan Asma wasifat.

#Level 2.
Oleh guru ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yg sesuai sunnah nabi (berdasarkan versi mereka) , mana yg tidak sesuai dengan sunnah. Mulai dari makan minum sambil duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman tuh laler dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum.
Lalu merembet kepada hal yg dipakai, sebagai pembeda identitas dirinya dengan orang lain. Seperti ke celana cingkrang, pake jenggot, jidat item, kalo ngobrol dg lawan jenis tidak boleh kontak mata. Walhasil itu ditanamkan terus hingga mereka yg melakukan itu semua merasa lebih “nyunnah” dari yg lain (cek dalam diri kita, jika ada berarti ini sudah menjadi sebuah alarm)

Belajar agama dengan orang² ini adalah SAMI’NA WA ATO’NA. Menurut dengan ajaran mereka berarti sama dengan menurut ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti tidak sesuai sunnah nabi. Karena sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yg sepemikiran dengan mereka. Mau dia Kyai, Tuan Guru, Habib, Profesor lulusan Mesir, tidak perduli.

Beda = tidak sunnah. Disini mereka sudah mulai diajarkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang atau kelompok yang mereka tuduh ahli bid’ah, karena menurut mereke bergaul dengan mereka akan menjauhkan diri dari i’tiba kepada Rasulullah.

Jangan heran kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab, KH Said Aqil, Gus Mus, dll dianggap kalah ilmu dg ustad² yg ngajinya seminggu sekali dengan murobi yg ilmunya 1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yg baru kenal Islam beberapa tahun saja).

#Level 3.
Dari sikap paling sesuai sunnah, merembet ke sikap lebih Islami dari yg lain. Mereka hobbinya teriak² “KAMI UMAT ISLAM”. Seolah-olah agama ini hanya mereka yg punya, muslim yg lain ngontrak doang. Karena kurang Islam.

Kalau jika sudah pada tahap ini jika anda beda pilihan/pendapat dengan mereka langsung dianggap sesat, kafir, bid’ah dan syirik. Bahkan terhadap orang tua/keluarganya sendiri pun sering konflik hanya karena beda cara beragama.

#Level 4.
Dari menolak perbedaan, sampai menganggap mereka yg beda itu musuh. Walau pun mereka satu agama. Mereka merasa mewakili “Umat Islam” yg sedang dizolimi hingga harus melawan. Musuh kelompok dianggap musuh agama. Hingga membuat isu hoax/fitnah/kebencian terhadap kelompok-kelompok yg beda dianggap bagian dari perjuangan agama.

#Level 5.
Kebencian yg mendalam terhadap kelompok yg berbeda, yg dianggap kafir, dianggap dzolim, berubah menjadi perilaku keras yg berujung terorisme. (Maaf) Membunuh mereka dianggap jihad dan mereka bangga melakukannya. Bahkan mereka meyakini betul sebuah hadits yang menyatakan bahwa “tidak memusuhi orang kafir, maka akan menjadi kafir”.

Embrio kelompok-kelompok ini tertanam mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid.
Sasarannya adalah orang² baik yg polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi pribadi yg lebih baik. Mereka mengira guru² yg mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya kepentingan apa pun seperti dirinya. Guru yg sama yg mengajarkan ma’rifatullah, ma’rifaturrasul, akhlaq, shirah nabawi, tauhid adalah orang yg sama yg juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yg tidak sepaham sebagai ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama.

*

Saran saya, gunakan “AKAL” mu saat akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yg baik yg bisa diambil ibroh/pelajaran, dan mana yg penting untuk dikritisi. Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI.

Akal itulah yg membedakanmu dengan makhluk lainnya, hingga ketika kamu belajar kamu menjadi “Manusia” bukan malah menjadi “Domba” yg dicocok hidungnya. Jangan sampai hidupmu seperti zombie yg dikendalikan untuk menyerang dan mendzalimi orang lain. Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali KWH : “Kadar pemahaman agama seseorang itu tergantung akalnya”.

Kamu diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yg berilmu dan berahlak. Karna ciri orang berilmu itu pasti BIJAK & TUJUAN AKHIR BERILMU AGAMA adalah TAWADLU & BERAKHLAQ MULIA terhadap sesama. Bukan malah semakin sombong dan buas.

Dalam sebuah Hadist Qudsi dikatakan bahwa : “Man Arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, wa man arofa Robbahu faqod jahilan nafsahu” artinya “Barang siapa yg sudah mengenal dirinya, maka dia sudah mengenal Tuhan Nya (Robb Nya), dan barang siapa yang sudah mengenal Tuhan Nya (Robb Nya), maka akan semakin merasa bodoh dirinya”.

Tulisan ini bukan untuk mencap, melabeli, menuduh, atau memojokkan Agama Islam. Kita semua meyakini bahwa Agama Islam adalah agama yg mulia. Tapi tulisan ini sebagai pengingat agar kita terhindar dari anasir-anasir ideologi yg bisa muncul darimana saja.

Ingatlah bahwa saya, anda, kita, kelompok anda, agama anda, semua memiliki bibit terrorisme dalam diri masing-masing. Dan itu akan bertumbuh kembang jika kita tidak mengenali dan menghentikan pertumbuhannya.

Kita hidup dunia hanya sementara, sorga pun terlalu luas hanya untuk dikuasai kita saja. Maka welas asihlah, berbagi cinta lah, berkasih sayanglah kepada sesama umat manusia.

*Disadur oleh tulisan Abdullah Ade, Anggota Banser dan Pegiat Terrorisme dan Radikalisme di dunia maya.

Copas

Tags

Asep Marzuki

Seorang yang terus belajar karena rasa keingintahuan yang tingi, memegang teguh prinsip kehidupan padi, semakin berisi semakin rendah hati

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close